You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Ngloram
Logo Desa Ngloram
Ngloram

Kec. Cepu, Kab. Blora, Provinsi Jawa Tengah

Linimasa 500 Tahun Peradaban Ngloram

Administrator 27 Agustus 2026 Dibaca 50 Kali

Periodesasi 500 Tahun Ngloram

  1. Periode kerajaan medang kuno (akhir abad 10)
  2. Periode kerajaan kahuripan / jenggala-kediri (abad 11-12)
  3. Periode kerajaan singasari (abad 13)
  4. Periode kerajaan majapahit (abad 14)
  5. Periode transisi kerajaan majapahit ke kasultanan (abad 15)

Medang Kuno

Antara pantai utara jawa dengan istana istana kasultanan jawa dari grobogan menuju lamongan terdapat sebuah kawasan hutan purba membentang di sepanjang pegunungan kapur bernama kendeng tengah dan utara. Dalam dunia legenda bahwa di dalam hutan ini, asal usul peradaban jawa di mulai, letak sebuah negeri kuno bernama “Medang Kamulan”.

Situs Ngloram secara geografis terletak di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu Kabupaten Blora, dimana Kabupaten ini mewarisi letak hutan purba itu. Sehingga sebelum memulai ngloram, tentu akan lebih baik jika mengulas tentang bagaimanakah Medang kamulan itu.

Beberapa hal penting yang dapat di libatkan di sini adalah kebradaan kerajaan medang (Mataram Kuno) periode jawa tengah, dan kemunculan Medang Jawa Timur, yang kemudian dominan di jawa, sehingga di tarik kemungkinan posisi strategis sebuah wilayah di antara keduanya. Medang Kamulan sering kali dianggap senama dan selokasi dengan medang, dan berdasar dari keterangan legenda masyarakat, pusat keraton medang kamulan berada di batas antara kabupaten antara kabupaten grobogan dan blora. Hal ini dikuatkan keterangan dari naskah Sunda, Bujangga Manik, bahwa Medang Kamulan  berada di antara Pulutan (Penawangan, Purwodadi) dan Gegelang (wilayah antara Madiun dan Ponorogo). Sehingga kawasan Medang Kamulan yang disebut pada naskah yang dibuat akhir abad 15 itu harusnya melingkupi seluruh wilayah Blora. 

Posisi bisa menentukan peran, banyak argumen yang mendukung bahwa pusat Medang di tahun tahun terakhir abad 10 terletak di tengah tengah antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, yang artinya di titik sentral di mana kerajaan ganda itu dapat di perintah.

Namun klaim tentang peran Medang Kamulan sebagai penguasa Jawa masih lemah, meski dimungkinkan berada antara Mataram Jawa Tengah di tahun 919 M dan dominasi Empu Sindok Jawa Timur setelah tahun 929 M, sehingga yang paling mungkin Medang Kamulan merupakan “Stasiun Perantara” kerajaan Medang.

Wilayah yang nantinya disebut Ngloram, menempati wilayah stasiun itu, dan karena dia berada di bantaran Sungai terpanjang di Jawa disebut kemudian Bengawan Solo, maka wilayah   Bukti artefak gerbang Kamulan terlihat pada sisa-sisa reruntuhan bangunan dari batu pasir yang berserakan di Lemah Duwur, dimana terdapat ukiran hutan belantara dan kalamakara, makhluk mitologi simbol penguasa ekosistem hutan. Menjadikan hutan belantara sebagai medali atau pusaka sepertinya menjadi ciri tersendiri bagi medang kamulan. Petunjuk ini setidaknya menambahkan identitas Medang Kamulan sebagai wilayah yang memiliki karakteristiknya tersendiri dan menjadi sebuah pembeda dengan Medang pada umumnya.

Pusat kerajaan Medang ditempatkan di wilayah yang dekat dengan gunung, sehingga cenderung jauh dengan wilayah pantai, tempat pelabuhan-pelabuhan dagang.

Beberapa usaha penting untuk memajukan sektor pertanian masyarakat dilakukan Dyah Balitung (Raja Medang) tampak berhasil, dengan membangun pusat-pusat pasar seperti yang tertuang dalam Prasasti Sangsang dan Prasasti Telang menceritakan bagaimana desa desa sekitar bantaran Bengawan Solo dibebaskan dari kewajibannya apabila penduduk setempat mampu menjamin kelancaran lalu lintas di wilayahnya.

Laju perubahan dan peningkatan ekonomi itu sebanding dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk, yang berimbas langsung terhadap ragam permasalahan sosial yang mengikutinya.

Nampaknya fakta ini mendorong Mpu Sindok untuk berupaya memindahkan ibukota kerajaan Medang, yang kalau kita perhatikan, seakan akan mendekati wilayah pedalaman baru itu. Dan untuk menghindari konflik horizontal, memindahkanya lebih dekat dengan Bengawan Brantas. Tahun 971 M, Rake Hino Sri Isanawikrama Dyah Mattanggadewa, berupaya mempopulerkan sebuah wangsa baru bernama isana, setelah Jawa terpolar tanpa sadar, menjadi Syailendra dan Sanjaya. Sederhananya, Wangsa Syailendra identik dengan “orang orang Gunung”, sedangkan Wangsa Sanjaya identik dengan “orang orang Pelabuhan”. Mattanggadewa bisa jadi sebagai lambang, bagaimana pentingnya aliran suci sungai suci Ganggga, sebagai air yang mensucikan hubungan Gunung dan Pelabuhan. Sehingga Wangsa Isana secara mudah di artikan sebagai “orang orang Sungai”. Jika kata Isana dapat dimaknai dengan kata isan, kata Sanskerta yang berarti “sekaligus”, maka dalam kasus jawa, Wangsa Isana berkuasa sebagai pengelola dua aliran suci Jawa yaitu Bengawan Solo sekaligus Bengawan Berantas.

Wilayah Lwaram saat ini disebut Ngloram, selain di anggap sebagai gerbang “Kamulan” Medang Kamulan, dapat dimaknai juga wilayah inti “Wangsa Isana”, yang cukup penting bukan hanya karena posisinya yang persis berada di bantaran sungai dan di tengah keseluruhan aliranya, tetapi juga melengkapi apa yang sudah dimulai di Telang dan Sangsang. Lwaram tumbuh karena mewarisi ramainya pasar sangsang dan penerus keseriusan Telang dalam mendukung kelancaran transportasi sungai maupun darat dengan tambangan penyebrangan. Pun karena wilayah ini mendapat perlindungan dan restu para Rsi.

 

Kahuripan dan Jenggala -  Panjalu (Kediri)

Kahuripan

Dibanding dengan nama nama Raja Medang sampai Jenggala Kediri yang sudah terlebih dahulu di pelajari, nama Erlangga mulai di kenal sejak Prasasti Pucangan (Calcuta) di tahun 1912 oleh sarjana Belanda H. Kern. Sebenarnya, tidak ada yang tahu dimana letak awal penemuan prasasti ini ketika Raffles mengetahuinya dan kemudian memberikanya sebagai hadiah kepada Lord Minto. Entah mengapa prasasti ini harus menunggu kurang lebih seratus tahun tergeletak begitu saja di Museum Calcuta (india), Hingga Kern kemudian membaca dan menterjemahkan prasasti bertulisan Jawa Kuno ini, dan menerbitkanya dalam sebuah jurnal berbahasa belanda (1913).

Disamping Erlangga sebagai tokoh utama, mulai juga dikenal nama Haji (Aji) Wurawari dan Lwaram. Prasasti Pucangan berhasil menerangi gelapnya periode sejarah kuno Jawa, tentang apa yang terjadi saat transisi milenium ke-dua di tanah Jawa. Beberapa sarjana Belanda yang mencoba merangkai keterkaitan Prasasti Calcuta dengan kesejarahan Jawa, kemudian menginterpretasikannya dengan sudut pandang politik (political history), dengan narasi-narasi pertikaian dan peperangan. Keyakinan ini sejalan dengan sebuah gagasan bahwa negara (kerajaan) merupakan agen utama dalam perubahan sejarah. Prasasti Calcuta juga dapat di sebut sebagai karya sastra berupa dokumen kebudayaan, karena memiliki unsur religius dan pujian kepada Sang Raja dan mengungkapkan kronologi kejadian yang mengantarkan Erlangga memperoleh tahta nya.

Prasasti ini (Pucangan) dikeluarkan pada hari Rabu Pahing, wuku Waayang-wayang, Tahun 963 Saka atau 1041 Masehi. Erdasar pembacaan dari Prof. H. Kern, bunyi baris ke-5 yaitu:

an hana ista prartana sri maharaja ri kala ning pralaya ring yawadwipa irikang sakakala 928 mra... wurawari an wijil sanke Iwaram, ekarnawa rupa haji nikang sayawadwipa rikangka ka

Nama Lwaram tertulis pertama kali sebagai tempat asal dari Haji Wurawari diwaktu terjadi Pralaya di tanah Jawa. Pulau Jawa seperti yang sekarang dikenal, berada dalam wilayah Ring of Fire (Cincin Gunung Berapi), dan Kern mempercayai bahwa Pralaya yang dimaksud disini adalah sebuah bencana katrastopik Jawa, bencana yang secara periodic terjadi dalam kurun waktu tertentu di pulau Jawa. Sementara Roffaer, karena diteruskan dengan kata ekarnawa yang berarti "lautan susu", lebih menekankan kepada singgungan politik yang terjadi di Laut Utara Jawa, tentang pengaruh Cola, Sriwijaya, dan China. la beranggapan bahwa Air-Jernih (Wurawari) hadir dalam suasasa laut yang tak menentu, dan di bentang alam Lwaram. Oleh karena Lwaram dianggapnya sebagai Ganggayu (Melayu) seperti halnya Wurawari yang disepadankan sebagai wilayah Johor, maka semua kejadian penyebab serangan Pralaya kerajaan Medang berasal dari kejadian di luar Jawa.

Istilah-istilah maupun alur cerita dalam prasasti ini baiknya disandingkan dengan Adiparwa dan Arjunawiwaha, karena baik prasasti Calcuta maupun kedua kakawin itu memiliki rentang waktu pembuatan yang berdekatan. Kakawin Adiparwa menerangkan bahwa Pralaya, dengan keadaan ekarnawa, merupakan salah satu gejala atau tahapan zaman dimana jagat dunia sedang diaduk seperti "lautan susu".

Menurut Rakawi, kejadian katastropik ini bukan untuk mencari siapa yang salah tetapi sebuah kenyataan kosmik yang harus dihadapi dan bagaimana mencapai solusi, mencari metode-metode baru yang berakar masa lalu, yang kemudian ditumbuhkan dalam setiap kata hasil karyanya. Rakawí Adiparwa memaknai kejadian pralaya sebagai pertanda munculnya Air Kehidupan, Air Abadi, air suci yang menghidupkan jiwa-jiwa ksatria yang sudah mati, dan keberadaannya dilindungi oleh seluruh Dewa.

Menurut Roffaer, Lwaram secara bahasa bisa diartikan sebagai Lwa + Ram, Lwa atau Iwah kata Jawa Kuno yang berarti sungai atau air (tawar) yang mengalir, sementara Ram bisa berarti Ram(a), sehingga Lwaram berarti Air-Rama. Epos Ramayana, seperti yang ditulis oleh Walmiki, mengisahkan tentang bagaimana Rama mencari istrinya, Sita, dan juga bagaimana Yawadwipa dikenal dunia kurang lebih seribu tahun sebelum Erlangga.

Kalimat "hana ista prartana" berarti "ada kesungguhan keinginan dan harapan" dari Sri Maharaja saat terjadi pralaya di tahun 928 Saka, setahun sebelum Sri Maharaja meninggal dunia. Sehingga berita ini bisa dimaknai sebagai keinginan terdalam dari Sri Maharaja kepada Erlangga untuk mencari hal terpenting agar menentramkan pralaya Jawa, atau, "pusaka" Wurawari dari Lwaram.

Seperti halnya dalam kakawin Adiparwa, jika gejala dalam pralaya itu diibaratkan sebagai munculnya "Air Kehidupan", maka titik kendalinya sudah terindikasi berada di wilayah Lwaram.

Setelah meninggalnya Sri Maharaja Dharmawangsa, dengan ditemani seorang Mpu Narottama, Erlangga memutuskan untuk mengembara ke penjuru Jawa. Prasasti Calcuta menyebur bahwa setelah berjalan 12 tahun. Erlangga yang dirasa telah dewasa dinobatkan oleh tiga pemuka agama sekaligus: Siwaisme, Brahmanisme, dan Mahabrahmana, untuk menjadi Raja Jawa, bergelar Rake Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikrama Uttunggadewa tahun 941 Saka Ibukota kerajaan dinamakan Kahuripan, Erlangga mendapat baru untuk mempersatukan dan tanggung jawab memakmurkan seluruh negeri. Dimulailah babak baru dimana dia harus mengalahkan penguasa-penguasa yang dianggap merusak Jawa.

Rakawi menganggap segala doa dari pengangkatan itu merupakan "kehendak langit", untuk memilih Raja Erlangga sebagai manusia yang mampu melakukan keseimbangan kosmik. Erlangga seringkali dianggap penerus wangsa Isana gagasan Mpu Sindok, sebagai penyeimbang simpang-siurnya tatanan yang berujung malapetaka tanah Jawa.

Ketidakstabilan atau volatilitas kepemimpinan Jawa yang disebabkan ketidakmampuan penerus Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra, pada akhirnya mengerucut menjadi dua kutub; Raja Wuratan dan Raja Wengker, sehingga dengan menundukkan mereka terlebih dahulu, kemantaban pemimpin Jawa akan terjadi. Adapun Ngloram, sebagai simpul timbangnya akan mudah untuk diberadakan di tengah- tengahnya, menyeimbangkan gelombang akibat gejolak "lautan susu".

Telur-telur yang diinisiasi Mpu Sindok di Tamwlang mulai menetas, berubah menjadi pusat-pusat dagang dengan kapal-kapal niaga. Dan itu seperti ribuan ular naga yang sedang mencari mangsa di sepanjang Bengawan. Tetapi penguasa terkuat yang mengatur perdagangan sungai itu juga muncul. Berwujud burung Garuda, yang juga menetas sebagai penguasa alam antara (dirgantara); seperti burung Elang yang memakan Ular.

Pelabuhan Hujung Galuh difungsikan sebagai pelabuhan internasional, para nahkoda kapal dan pedagang dari negara manca berkumpul di sana, kebebasan dalam perdagangan laut juga diatur, seperti halnya di Kambang Putih (Tuban). Sementara di Brantas, untuk menata kelancaran tranportasi dibangun sebuah bendungan untuk menjaga air karena sisi bantarannya yang sering jebol. Mengatur kapal- kapal niaga yang masuk sepanjang Bengawan merupakan kewajiban bagi pemimpin Jawa untuk membuat ketentuan- ketentuan di sepanjang aliran sungainya, dan itu dilakukan oleh Erlangga.

Aji Wurawari dianggap piawai dan menguasai dalam hal itu yang, menurut perkiraan Erlangga, semua jenis pekerjaan haruslah dipegang oleh orang-orang yang lebih mampu. "Wurawari dari Lwaram" adalah pusaka bersimbol Garuda.

Setelah Erlangga turun tahta yang diibaratkan sebagai "Jawa yang kehilangan matahari", ada dua kerajaan di Jawa. Kedua kerajaan ini secara teoritis bisa dikatakan tetap ada sampai jatuhnya Majapahit. Gelar resmi Raja terus menjadi saksi bahwa pemegang kekuasan tertinggi merasa dirinya sebagai raja dua kerajaan; Jenggala dan Kadiri. Sungguh aneh, beberapa dasawarsa sepeninggal Erlangga, hanya ditemukan bukti yang minim, sehingga pembicaraan tentang pembagian Kahuripan menjadi dua bagian itu melahirkan banyak asumsi. Dari yang paling jelas, di Jenggala, penerus Erlangga bernama Rake Halu Sri Samarosaha Karnakesana Dharmmawangsa Kirtisingha Jayantakatunggadewa. Raja ini membebaskan warga untuk menggunakan pipa (pipa terakota) air berteknologi hidrolik untuk keperluan minum dan pertanian, yang dibangun oleh Mpu Bathara Guru yang telah meninggal dan dimakamkan di Tirtha, wargapun rutin melakukan puja Haricandana dan Agatsya.

Bukti-bukti yang ditemui di Bengawan Solo semuanya seakan bungkam tentang Jenggala, tetapi tidak untuk sebaran bukti prasasti yang lebih mengarah kepada Kediri, hal ini mendukung gagasan bahwa setelah periode Jenggala dan Kediri, kerajaan yang disebut terakhir menjadi satu-satunya yang memegang kuasa. Dua putra satu putri Erlangga, semuanya seperti masih muda untuk bertahta, tetapi mungkin pada waktu nanti, di bawah Raja Jayabaya Kediri, salahsatu dari tiga putra ini akan dipertimbangkan untuk menjadi silsilahnya. Kakawin Smaradahana (1130 M), pun kemudian mengisahkan penyatuan Kamajaya dan Ratih, atau Kameswara dengan permaisurinya, yang membara sehingga melahirkan sosok Ganesha, yang kemudian digunakan sebagai lambang dari Kediri.

Sebelumnya Ibukota Kediri berada di Kahuripan, kemudian dipindahkan ke Daha oleh Jayabaya, di tengah- tengah aliran Bengawan Brantas. Kakawin Hariwangsa, tampak cukup aneh ketika mengawali kisahnya dengan Arjuna yang justru harus melawan Prabu Kresna di istana Dwarawati untuk mendapat pencerahan. Mpu Panuluh belum dikenal Jawa sebelum disebut sebagai penulis karya ini. Kemudian Kakawin Bharatayudda (1157 M) yang telah selesai ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dibawah Jayabaya, terbaca bahwa di seluruh hamparan tanah Jawa tidak ada satupun wilayah yang menentangnya, bahkan tidak ada satu pulaupun yang mampu melawan keturunan Wisnu. Itu berarti, Jayabaya berhasil menguasai seluruh Jawa, dengan semangat inkarnasi Wisnu, seperti halnya Rama maupun Kresna.

Dalam kakawin Baratayuddha, Medang Kamulan seringkali diidentikkan dengan wilayah Dwarawati, tempat prabu Kresna. Ngloram (dan Medang Kamulan) di sisi utara Bengawan dari sisi geografis dapat dikata yang paling "aman" sebagai tempat tinggal para Mahabrahmana guru para Rakawi, dibanding dengan seluruh wilayah Jenggala yang rentan karena terbuka dengan wilayah laut. Wilayah ini jauh dari pusat kota Jenggala maupun Kediri, tetapi menjadi penentu batas-batas dua wilayah dua kerajaan itu sekaligus.

Singasari

Banyak yang mengatakan kalau Ken Arok (Sri Rajasa) bisa menguasai Jawa setelah itu karena telah berhasil merebut seorang permaisuri Raja yang sah, ketika wanita juga merupakan simbol air dan kesuburan. Menamai kerajaan terkuat itu dengan Singhasari. Tetapi ekspedisi pasukan Jawaka ke Sri Lanka (1251 M) samar-samar memberi informasi adanya keinginan untuk merebut "Air Kehidupan" di ujung barat. Namun dengan dalih “kami juga umat Buddha", usaha itupun mengalami kegagalan.

Perselisihan persepsi antar para pemuka agama (praktis dan putus generasi) tentang nilai-nilai suci bisa mengarahkan sebuah kegaduhan nyata yang luar biasa dikerajaan. Tetapi kerajaan hanya butuh satu generasi untuk benar-benar lupa atau kehilangan "wajah" air kehidupan ini, ketika hanya tertinggal sebuah kalimat "carilah di ujung negeri". Luhurnya makna penyatuan dan nilai Air Kehidupan dari seorang "Rsi yang berasal dari persemayaman tumpukan dua mandala" telah putus, menjadi jelaslah sekat batas timur dan barat, Jenggala dan Kediri. Makna itu hilang sebagai monumen tanpa arti, sehingga harus diupayakan untuk sekali lagi memperkenalkannya ke seluruh negeri.

Prasasti Maribong yang ditulis pada tahun 1170 Saka yang kemudian oleh L.C. Damais dikoreksi menjadi 1186 Saka (1254 M) - menjadi petunjuk bagaimana seorang Raja Jawa saat itu dengan sungguh-sungguh mengawali penyatuan batas-batas Jawa di titik "nilai" penting untuk menjadikannya wilayah suaka "sima Swatantra". Wilayah itu bernama Maribong, yang kewilayahannya akan menjadi kesatuan dengan Ngloram. Bunyi baris ke 4 dan 5 sebagai berikut:

kulamadhumarddana kamaleksana. namabhiseka sri jayawisnuwarddhana. sang mapanji smi ning rat. swapi tamahastawanabhinnasrantalokapalaka. kumonaken irikang wanwa i maribong watek atagan jipang.

Yang berarti: "(4) Raja penghancur ras jahat inkarnasi dari iblis Madhu. Sang Mata Teratai, Raja yang diberkati atas nama Raja Jayawisnuwardhana, Panji Smining Rat, (5) sang Pelindung tanah yang tak terbagi dan tanah yang damai berkat orangtua dari kakeknya (leluhurnya), memerintahkan bahwa untuk dusun Maribong, yang berkewajiban dibawah Jipang...".

Nama Jipang (sisi selatan Bengawan) sudah disebutkan disini, sebagai sebuah daerah yang memiliki kesatuan "mandala" dengan Maribong. Sebuah kebenaran lain yang bisa termasuk Jipang - itu didapat adalah bahwa Raja Jawa bernama Wisnuwardhana, juga bergelar Panji Semining Rat. Penyatuan seluruh negeri yang dimaksud dalam prasasti dapat dimaknai sebagai penyatuan dua Kerajaan Jawa; Jenggala dan Kediri. Sang mata teratai menyimbolkan bahwa dia telah berada pada titik pusat mandala bunga teratai berkelopak delapan.

Wishnuwardhana membuat sebuah keputusan yang ratusan tahun mungkin sudah tidak dikenali lagi, yaitu untuk mengingat kembali permata persatuan dan kedamaian, yang diperkenalkan oleh para leluhur mahabrahmana (zaman Erlangga maupun Jayabaya). Dan ingatan lama itu berada di Ngloram, yang selama beratus tahun justru kerap kali dianggap sebagai pemisah negeri. Wisnuwardhana mencoba menyemaikan kembali semangat itu melekat kukuh saat dia memerintah kerajaan, yang kemudian dia namai Tumapel.

Majapahit

Dari Negarakertagama didapat ringkasan:

Raden Wijaya memiliki empat istri, putri-putri dari Kertanegara, Tribuwana yang sulung, Mahadewi, Prajnaparamita, dan Gayatri yang paling bungsu sebagai permaisuri atau Yang Mulia Istri Raja Agung. Tahun 1231 (1309 M) Raden Wijaya (Kertarajasa) meninggal dunia, dibuat sebuah tempat ibadah di kerajaan bernama Antahpura, dibuat Siwa di Simping.

Jayanegara menjadi raja Tiktawilwa (Majapahit), adiknya berdua seperti sepasang Rati yang sebanding bidadari, menjadi Ratih Jiwana (Kahuripan) dan Ratih Daha. Tahun 1238 (1316 M) di bulan Madhu, Jayanegara berangkat ke Lumajang mengalahkan Pu Nambi, benteng Pajarakan runtuh. Seluruh negeri khawatir dan terkesima dengan serangan itu. Tahun 1250 (1328 M) Jayanegara pulang ke surga Hari (Wisnu), dibuat dharna Wisnu di dalam istana, di Sila-petak, juga di Bubat, melambangkan inkarnasi dari Wisnu. Di Suka- Lila tergambar Buddha, melambangkannya sebagai Amogasiddhi.

Kemudian tahun 1251 (1329 M), Ratu Jiwana (Tribuwana Wijayottunggadewi), menggantikannya sebagai seorang Ratu di Tiktamalura (Majapahit. Tergambar kejayaan ayahnya (Kertanegara). Tahun 1253 (1331 M) dia menghancurkan musuhnya, Sadeng dan Keta. Ia mempercayakan itu kepada Mantri bernama Mada. Tahun 1265 (1343 M), pemimpin Bali yang rendah budi diperangi dalam sebuah ekspedisi, bala tantara semua dihancurkan, semua jahat yang tersisa takut melarikan diri".

Masa Keemasan Majapahit berada di tangan Ratu Tribuwana dan putranya, Hayam Wuruk, pewaris kepiawaian Erlangga, Wisnuwardhana dan Kertanegara. Merekalah penguasa perairan Nusantara, baik air tawar dan air laut, dan mendewasakan diri untuk menghadapi dinamika yang menyertai.

Mereka menyadari keberagaman Nusantara bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk mengelola mereka supaya tetap teguh memposisikan diri mereka sebagai sulur-sulur mandala kerajaan, berputar seirama mengikuti kefanaan zaman. Agaknya, sebagaimana gelarnya, Tribuwana telah berhasil menguasai tiga dunia, juga tiga kebudayaan Hindu- Budha-Islam, di jalur maritim perdagangan Nusantara. Perluasan mandala itu terjadi dengan semangat kepatuhan Menteri-menteri, sebagaimana kita bisa saksikan agak nanti peran kasta-kasta tertinggi Jawa dari diri seorang Mada.

Sosok Ratu ini juga menguasai Samudra menyatukan selat-selat, mengambil semangat persatuan Wisnuwardhana ketika Ngloram dijadikan sebagai Swatantra, sehingga Jung- Jung Jawa itu dijadikan "suaka laut kerajaan", penghubung pulau-pulau sekaligus benteng-benteng Nusantara. Mereka berputar di Laut Jawa, Karimata, Malaka, Campa, Brunai, Sulu, Maluku, Timor, Bali dan ke Jawa kembali. Perputaran ini akhirnya bertemu dengan jalur China Selatan di Campa, dan jalur laut Tengah (Arab, India) di Pasai.

Jung Jawa pertama kali terukir dalam 4 relief di Borobudur, terdapat dua tiang ganda, masing-masing menahan layer persegi empat, haluan bermotif sirip. Setelah itu tertulis tentangnya dalam naskah Ling Wai Tai Ta abad 12, kemudi dan layar-layarnya bisa dibilang berukuran raksasa. Atlas Katala adalah sebuah peta paling penting abad pertengahan, yang dibuat tahun 1375 M oleh Abraham Cresques dan tersimpan di Prancis, menggambarkan bentuk Jung Jawa. Jung Jawa tergambar dengan lima layar dan tiang besar, dengan bentuknya yang kokoh, dan ditemui sampai laut Arab. Sebagian gambar yang lain juga menyebutkan Illa laua (pulau Jawa) yang diperintah oleh seorang Ratu (Tribuwana Tunggadewi).

Menurut Negarakertagama, setelah kematian Gayatri, Tribuwana memilih turun tahta (1350 M) menjadi pertapa dan digantikan oleh Hayam Wuruk, putranya, sebagai penerus tahta. Hayam Wuruk bisa dibilang cucu dari Kertanegara. Pertama yang dilakukannya adalah mengunjungi semua ranah religi atau wilayah dharma di seluruh wilayah Jawa sampai ke Bali. Bertemu dengan para rakawi dan sesepuh Pu Mungguh, untuk mendalami perjalanan sejarah Jawa dan mencari kembali nilai-nilai kenegaraan yang mungkin mulai ditinggalkan.

Hayam Wuruk mengeluarkan kebijakan-kebijakan baru dengan mengambil semangat lama yang mulai ditinggalkan semenjak Tribuwana Jayatunggadewi meninggal dunia. Dimulailah usaha-usaha tentang tatakelola Bengawan Solo dan Bengawan Brantas, memberi penghargaan tertinggi bagi religi dalam mengatasi krisis nilai-nilai.

Bahwa "wanua-wanua" dengan pasar-pasar dan lalu lintas penyeberangan di sepanjang bengawan Solo dan Brantas, diberikan hak istimewa untuk mengatur secara mandiri perekonomian mereka, merawat tempat-tempat dharma dan makam-makam leluhur, memberi gaji kepada penyeberang (tambangan) dan orang-orang penarik pedati (Kalang) sehingga para pelintas dan para penyeberang tidak dikenai biaya.

Tebing-tebing tinggi curam dan sempit yang dibentuk pegunungan Kendeng dengan sendirinya menahan kapal- kapal besar untuk lebih masuk, terkadang mereka harus ditarik dan dikawal untuk menuju wilayah yang lebih dalam. Bahkan kelokan tajam di ujung Jipang cukup untuk membuat kapal-kapal itu terguling karena pusaran airnya.

Di tikungan ini beredar cerita tutur legenda tentang pengembara "Jaka Sangsang". Dan di sinilah sekarang letak Jipang-Ulu dan Goa Sentono, Naerssen dan Noorduyn nampak memastikan bahwa keberadaan Nadhitirapradesa Jipang berada di sini.

Kepopuleran "pelabuhan sungai" Jipang juga didukung oleh "suaka air" seperti halnya di pelabuhan Tuban. Terdapat mata air yang mengucur langsung ke tepian bengawan, yang langsung bisa diminum dan boleh diambil siapapun, tanpa bersusah payah untuk mencarinya di daratan. Lokasi sumber ini tepat dibawah Goa Sentono, sisi utara bantaran, tempatnya yang tinggi yang menghadap langsung ke aliran Bengawan untuk difungsikan sebagai tempat memungkinkan pemantauan kapal-kapal yang melintas di bawahnya, tepat sebelum kelokan berbahaya itu.

Desa-desa ini dilarang untuk ditarik upeti, dan hanya berkewajiban untuk memuliakan nilai-nilai dan tempat-tempat dharma. Semua desa diberi status khusus sebag ofai "Naditirapradesa". Mengatakan bahwa ini diambil untuk meneruskan semangat Kahuripan di dalam Jaya Wisnuwardhani yang "anggun seperti air suci" dan Wisnuwardhana, ispirasi "kebajikan yang wangi".

Setelah Wisnuwardhana membangun pen-dharma-an sebagai penghormatan leluhur pencetus nilai-nilai penyatuan, oleh Hayam Wuruk simpul-simpul ini tergerak menjadi pusat- pusat ekonomi baru, memupus jarak, menyatukan kiri dan kanan bantaran. Dengan harapan, sungai yang lebar dan panjang itu tidak lagi menjadi penghalang untuk menyatukan negeri Jawa.

Tidak diketahui dengan pasti bagaimana peran Patih setelah Mada meninggal, tetapi dengan meninggalnya Hayam Wuruk (1389 M) puncak kejayaan Majapahit terhenti dan mulai mengalami penurunan. Di tahun yang sama Majapahit seakan terpecah seperti halnya Kahuripan era Erlangga menjadi kerajaan ganda, kerajaan Barat (Tumapel) dibawah menantunya, Aji Wikramawardhana, dan kerajaan Timur (Blambangan), di bawah putranya yang lain, Bhre Wirabhumi.

Masa Transisi

Slametmudjana, membahas bahwa sejak 1450 M adalah periode perang suksesi, antara penguasa dari berbagai kerajaan, dan kerusuhan dan kekacauan yang mendominasi seluruh negeri berlangsung hingga akhir abad 15. Teori disintegrasi total, juga disinggung oleh Stutterheim, berada ditempat kerajaan-kerajaan Hindu-Budha Majapahit yang terpecah.

Teeuw dan Robson menyatakan; "Jawa Timur sama sekali bukan kerajaan kesatuan, melainkan kumpulan kerajaan-kerajaan kecil di bawah hegemoni terkuat diantara mereka". Coedes secara pribadi merangkum abad terakhir keberadaan Majapahit dengan kata; "Pemerintahan Wikramawardhana menandai awal kemunduran Majapahit, dan akan semakin cepat selama pemerintahan seterusnya".

Tetapi informasi penting dan paling baru diberikan oleh prasasti Waringin Pitu, berupa lempengan tembaga yang dikeluarkan tahun 1447 M, yang ditemukan tahun 1937 M. Penemuan ini terjadi setelah penelitian-penelitian oleh Krom ketika menulis "Sejarah Hindu-Jawa". Juga ketika fakta bahwa teks dari prasasti ini tetap tidak dikeluarkan, dan hanya sedikit di tahun 1938 M. Stutterheim tidak menerbitkan seluruh teks prasasti, yang terdiri dari 14 lempeng tembaga, tetapi dengan ancar-ancar; bahwa prasasti ini dikeluarkan di tanggal 15 Margasira, tahun 1369 Saka (22 November 1447 M), dimana gelar Raja Kertawijaya disebutkan lengkap dengan 14 putra makhota dan putri-putrinya.

Tiga raja yang menggantikan Raja Kertawijaya setelah kematiannya di tahun 1451 M bukanlah orang-orang asing, atau dari mereka yang bukan bagian kerajaan, yang secara lain seperti halnya praktis menghancurkan satu sama pendapat Slametmuldjana, Rajasawardhana namun sebaliknya, Raja (1451-1453), Wijayakumara dyah Girisawardhana (1456-1466) dan Singhawikramawardhana (1466-1478) adalah orang pertama, kedua dan ketiga putra- putra Kertawijaya sendiri.

Hikayat Banjar, yang pertama kali diperbincangkan oleh J. Hageman tahun 1857, dan walaupun tidak pernah terbit sebuah versi teks yang lengkap, didapatkan ringkasan cerita;

 

...setelah Raja dan Gajah Mada meninggal, Raja Hangrak mengutus Gagak Baning melamar putri Pasai, karena kebesaran dan ketangguhan Majapahit, akhirnya Raja Pasai menyerahkan anaknya juga. Putri Pasai dibawa ke Jawa, menikah dengan Raja Majapahit, tetapi meminta untuk tinggal di tempat terpisah, tidak bercampur dengan istri-istrinya yang lain, dan tidak memakan yang haram. Ketika dia sudah berputra, saudara laki-lakinya, Raja Bungsu mengunjunginya, dan ketika sudah semusim berjalan, Raja Bungsu hendak pulang, namun Putri melarangnya.

Tak ingin istrinya sakit, Raja Majapahit pun mencegahnya untuk pulang ke Pasai. Raja Bungsu menyanggupi, tetapi ingin tinggal di dekat pantai, tidak di pusat kota, dan memilih desa bernama Ampel Gading. Segera Raja Bungsu membuat langgar bersama panakawan-nya. Mencoba berdakwah atas restu Raja Majapahit dengan tidak membatasi dakwahnya sampai ke pedalaman Jawa.

Kemasyuran Ampel Gading sampai ke patinggi Jipang, yang datang meminta untuk di-Islam-kan, dan dengan itu dia memberikan putrinya untuk dinikahkan dengan Raja Bungsu. Raja Bungsu mengangkat patinggi Jipang itu sebagai Panghulu Islam untuk yang pertama kali di pedalaman. Panghulu Jipang menjadi masyur karena telah berguru dengan Raja Bungsu. Dari pernikahan Raja Bungsu dan putri Jipang itu lahir seorang putri dan seorang putra.

Setelah Raja Majapahit (Hangrak) dan juga patihnya meninggal dunia, Putri Pasai tinggal di Ampel Gading bersama Raja Bungsu, putra-putra Raja Majapahit terpencar-pencar; ada yang ke Bali, Tuban, Madura, Sidayu, Sendang, Damak, Pajang, Kudus dan masih banyak lagi. Dimulailah negeri Jawa menjadi masuk Islam, sehingga yang paling pertama adalah Ampel Gading, Jipang, Gresik, Surabaya, Demak, Kudus, dan lain-lainnya mengikuti...

Hikayat Banjar yang banyak bercerita tentang bagaimana Islam masuk ke Jawa. Raja Hangrak yang disebut dalam Hikayat Banjar akan sama dengan Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana, Raja Majapahit ke-5, yang dikatakan mengadakan ekspedisi besar ke Pasai dan Singapura. Dan Raja Bungsu disepakati sebagai Raden Rahmat atau Ma'dum Ibrahim, penerus Maulana Malik Ibrahim yang telah meninggal dunia di Gresik tahun 1418. Menuruti keterangan dari History of Java, dikenal dengan Sunan Ngampel.

Patinggi Jipang bisa dikatakan sebagai suksesor pemimpin Nadhitirapradesa Jipang era Hayam Wuruk, dan karena posisinya berada diantara Matahun dan Wengker, dan jauh dari kemelut internal wilayah-wilayah kotaraja Majapahit, menjadi paling dominan secara ekonomi maupun kebudayaan dibandingkan dengan yang lain.

Menurut Naerssen dan Noorduyn, Jipang pada waktu itu kemungkinan besar berada di Jipang-Ulu. Mungkin bukan sebuah kebetulan nama jabatan "Panghulu" sama dengan daerah asalnya "Jipangulu", namun yang perlu digarisbawahi bahwa Ampel dan Jipang memegang peran penting dalam penyebaran Islam di pedalaman Jawa, hal ini juga mempertegas anggapan bahwa hubungan Leran dan Ngloram sudah terjadi sejak dulu, karena pada dasarnya masih menjadi kesatuan wilayah antara Jipang dan Ngloram.

Kehadiran Raja Bungsu berada di awal abad 15, sehingga tidak jauh dari kuartal pertama abad 15, telah hadir Sunan Ngudung. Menurut Hikayat Hasanudin, Sunan Ngudung disebut sebagai Maulana Penghulu Rahmat, dan menurut Babad Cirebon, dia adalah menantu Sunan Ampel Denta, atau suami dari seorang putri dari Sunan Ampel dengan Nyi Gede Pancuran.

Babad Tanah Jawi kemudian menambahkan bahwa Sunan Ngudung merupakan seorang adipati Demak yang berjuang melawan adipati Terung Majapahit bernama Husein, saudara Raden Patah. Berita ini bisa dianggap tidak sesuai, karena di Demak seharusnya belum terdapat Kasultanan. Tetapi setidaknya menunjukkan telah terjadi ketidak-stabilan perekonomian yang disebabkan pengaruh embargo di gerbang masuk perdagangan (muara sungai: Terung) ke wilayah pedalaman (Jipang). Sunan Ngudung tentu tidak menyetujui itu, sehingga membuka jalur perdagangan antara pedalaman dengan pantai Utara Jawa lewat jalur darat.

Sebagaimana kabar dari Babad Cirebon, putri Jipang anak Panghulu Jipang itu bernama Nyi Gede Pancuran, -

Sunan Kudus yang dimaksud dalam Hikayat Banjar adalah Sunan Ngudung.

Yang pasti, antara wilayah Jipang, di sisi selatan bantaran Bengawan, dan Kudus yang berada di selat kuno Muria pantai Utara, terhubung dengan wilayah kuno "Medang Kamulan" yang memiliki gerbang bernama Ngloram (dengan situs Ngloram yang sekarang berada di antara desa Jipang dan Panolan), Tarikhul Aulia mengatakan Jipan-Panolang sebagai wilayah dakwah Sunan Ngudung, hal ini memperjelas maksud Hikayat Banjar yang menganggap Sunan Ngudung dan Sunan Kudus adalah sama, sedangkan mereka seharusnya seorang ayah dan anak. Pribadinya yang muslim tampak jelas dalam tindakannya di pantai utara Jawa, ketika Sunan Ngudung juga berperan dalam pembuatan tempat ibadah paling awal di pantai Utara bernama "Masjid Demak", dengan mengupayakan salah satu dari empat soko gurunya, dari kayu terkuat dan terbesar; Jati.

Dalam kasus suksesi kedua Majapahit yang disebutkan di antara tahun 1478-1486 M, kemungkinan besar merupakan penakhlukan kembali kerajaan oleh cabang garis keturunan yang sah, sebagai penanda berakhirnya perang saudara antara dua cabang garis kerajaan itu, yang memang berakar dari suksesi tahta yang tidak selalu teratur; oleh putra mahkota ataukah menantu, oleh Lelaki atau Perempuan. Jelas bahwa masih ada Raja-raja setelah itu, setidaknya sampai tahun 1486 M, yang tinggal di kraton tua Majapahit.

Bagaimanapun, Majapahit masih eksis dan menjadi kerajaan terkuat selama kurun waktu abad 15. Berbagai macam kegiatan kerajaan di bidang kebudayaan dan sastra masih terus berlangsung. Upacara-upacara resmi kerajaan seringkali dilakukan, seperti yang dibicarakan Kakawin Banawa Sekar tahun 1465 M dan pedoman keagamaan (Waringin Pitu 1447 M dan Trailokyapuri 1486 M).

Akhir dari kerajaan ini tidak datang sampai kurang lebih 40 tahun kemudian, setelah ukurannya secara bertahap berkurag sedikit demi sedikit, oleh embargo-embargo dagang sporadik dan terus menerus negeri-negeri Muslim di sepanjang pelabuhan pantai utara, dari selat Muria sampai selat Madura, seperti pelajaran dari Tome Pires dalam kunjungannya ke tanah Jawa tahun 1513.

Epilog

Sebagai penutup, program kerja utama KKN Kelompok 12 UNUGIRI Desa Ngloram bertajuk digitalisasi Situs Ngloram kami dedikasikan sepenuh hati bagi Desa Ngloram—sebuah ikhtiar kecil untuk menyalakan kembali cahaya sejarah, mengangkat potensi pariwisata, serta memperkenalkan kepada khalayak bahwa di tanah ini masih tersimpan peninggalan berusia ratusan tahun yang menjadi saksi bisu perjalanan zaman. Melalui artikel yang terbit di website Desa Ngloram, warisan masa lalu kami hadirkan dalam ruang digital agar tidak sekadar dikenang, melainkan dipahami, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Terima kasih yang mendalam kami haturkan kepada Bapak Totok Supriyanto, selaku penulis buku "Lwaram dalam Lipatan Masa" sekaligus founder Bumi Budaya, yang telah membuka jendela pengetahuan tentang jejak sejarah Ngloram.

Habib Nur Muhammad, seorang aktivis sekaligus mahasiswa UNUGIRI yang menaruh minat pada bidang sejarah, atas ketekunan dan kepeduliannya dalam menyunting buku tersebut hingga menjelma menjadi sebuah artikel yang bermakna; serta kepada Sahabat Annisa R. M. Attaromi, teman se frekuensi dalam bidang sejarah pun partner diskusi sekaligus editor akhir artikel ini, yang turut menyempurnakan setiap kata dan gagasan.

Semoga langkah sederhana ini menjadi benih yang tumbuh menjadi kebanggaan, menjadikan Situs Ngloram bukan hanya peninggalan yang diam dalam sunyi, tetapi kisah hidup yang terus bertutur, mengundang setiap insan untuk datang, mengenal, dan mencintai warisan luhur Desa Ngloram.

Penyunting : Habib Nur Muhammad
Editor : Annisa R. M. Attaromi

Suported By:

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan